BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan
pola hubungan antara konsumen dengan produsen pada era sekarang ini yangmana konsumen
yang mendikte produk apa yang seharusnya diproduksi oleh perusahaan. Perusahaan
harus berfokus pada konsumen, konsumen adalah bagian terpenting dari
perusahaan. Konsumen lebih penting dari pada kekasih (istri atau pacar), orang
bisa hidup tanpa kekasih tetapi perusahaan tidak bisa hidup tanpa konsumen.
Oleh karena itu perusahaan perlu mengerti bagaimana konsumenya berperilaku.
Kenapa Andi suka motor sport sementara bapaknya suka motor bebek, kenapa pasar
Bringharjo ramai pada bulan Muharom (Suro) sementara pasar Rebo di Jakarta
biasa-biasa saja. Kenapa selera makan orang jawa dengan orang manado berbeda.
Apa yang melatarbelakangi keadaan itu?. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
itu membutuhkan studi tentang perilaku konsumen.
Pada
dasarnya perilaku konsumen merupakan tindakan/perilaku, termasuk didalamnya
aspek-aspek yang mempengaruhi tindakan itu, yang berhubungan dengan usaha untuk
mendapatkan produk (barang dan jasa) guna memenuhi kebutuhannya. Tidak ada
kesamaan definisi yang dikemukanan para ahli, perbedaan itu disebabkan adanya
perbedaan sudut pandang. Perilaku manusia sangat komplek sehingga sangat sulit
digambarkan dengan kata-kata.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana perilaku
konsumen dalam aspek teorinya.
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan
penulisan makalah ini yaitu untuk mendiskripsikan perilaku konsumen dalam lingkup ilmu ekonomi.
BAB II
TEORI DAN PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perilaku Konsumen
Pengertian
perilaku konsumen menurut Engel et al. (1994 : 3) adalah tindakan yang langsung
terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa,
termasuk proses yang mendahului dan menyusul dari tindakan ini.
Mowen
(1990 : 5) mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah studi unit-unit dan proses
pembuatan keputusan yang terlibat dalam menerima, menggunakan dan penentuan
barang, jasa, dan ide. Difinisi tersebut menggunakan istilah unit-unit pembuat
keputusan, karena keputusan bisa dibuat oleh individu atau kelompok. Difinisi
tersebut juga mengatakan bahwa konsumsi adalah proses yang diawali dengan
penerimaan, konsumsi, dan diakhiri dengan penentuan (disposition). Tahap
penerimaan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen
terhadap produk, tahap konsumsi menganalisa bagaimana konsumen senyatanya
menggunakan produk yang diperoleh. Tahap penentuan menunjukkan apa yang
dilakukan konsumen setelah selesai menggunakan produk tersebut.
Studi
perilaku konsumen adalah studi bagaimana seorang individu membuat keputusan
untuk menggunakan sumber-sumber yang dimiliki pada konsumsi yang berkaitan
dengan sesuatu (barang atau jasa). Schifman dan Kanuk (1991 : 5) mengatakan
studi ini meliputi; apa yang dibeli, mengapa ia membelinya, dan berapa sering
ia membelinya.
Swastha
dan Handoko (1987 : 9) mendifinisikan perilaku konsumen sebagai tindakan
individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan
barang dan jasa ekonomisalnya, termasuk kegiatan pengambilan keputusan.
Perilaku
konsumen (AMA) adalah interaksi dinamisalnya antara pengaruh dan kognisi,
perilaku, dan kejadian disekitar kita dimana manusia melakukan aspek pertukaran
dalam hidup mereka. Ada tiga ide penting dari difinisi tersebut yaitu;
Perilaku
konsumen adalah dinamisalnya, artinya konsumen bergerak sepanjang waktu.
Implikasinya dalah generalisasi perilaku konsumen biasanya terbatas untuk satu
jangka waktu, produk, dan konsumen tertentu. Dalam strategi pemasaran berarti
strategi yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda, untuk situasi yang
berbeda. Strategi yang berhasil untuk titik tertentu dapat saja gagal pada
titik yang lain.
Perilaku
konsumen melibatkan interkasi antara pengaruh (afeksi) dan kognisi, perilaku
dan kejadian di sekitar. Untuk memahami konsumen dan mengembangkan strategi
pemasaran kita harus memahami apa yang dipikirkan (kognisi) apa yang dirasakan
(afeksi) dan apa yang mereka lakukan serta kejadian sekitar yang mempengaruhi
dan dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan konsumen.
Konsumen
dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsumen individu dan konsumen industri.
Konsumen individu atau konsumen akhir adalah individu-individu yang melakukan
pembelian untuk memenuhi kebutuhan pribadi/konsumsi rumah tangganya. Sedangkan
konsumen bisnis atau lembaga adalah individu atau sekelompok individu yang
melakukan pembelian atas nama dan untuk digunakan lembaga. Dalam hal ini
lembaga bisa berarti perusahaan, lembaga pemerintah, dan lembaga lainya.
2.2
Pentingnya
Mempelajari Perilaku Konsumen
Memahami
konsumen dan proeses konsumsinya memberikan berbagai keuntungan antara lain:
membantu manager dalam membuat keputusan, memberikan dasar teoritis bagi
peneliti dalam menganalisa konsumen, membantu legislatif dan pemerintah dalam
menyusun undang-undang dan membuat keputusan, dan membantu konsumen untuk
membuat keputusan yang lebih baik. Lebih dari itu studi tentang konsumen dapat
membantu kita untuk lebih memahami tentang faktor-faktor psikologi, sosiologi,
dan ekonomi yang mempengaruhi perilaku manusia.
Analisis
konsumen merupakan dasar dari managemen pemasaran. Perencanaan dan strategi
pemasaran harus disusun berdasarkan pemahaman akan konsumen yang menjadi target
pasar bagi perusahaan. Pentingnya pemahaman mengenai konsumen dapat dijumpai
dalam definisi pemasaran. Pemasaran adalah aktivitas manusia yang diarahkan
untuk memeuni kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Dari definisi
tersebut ada dua hal penting. Pertama pemasasar berusaha memuaskan kebutuhan
dan keinginan orang lain. Kedua, pemasaran melibatkan studi tentang pertukaran
dalam mana orang saling menyerahakn sumber daya. Agar menjadi pemasar yang
berhasil mereka harus memahami factor-factor yang mempengaruhi keinginan dan
kebutuhan konsumen.
Alasan
mempelajari perilaku konsumen dapat diiktisarkan sebagai berikut:
1. Analisis
konsumen menjadi dasar bagi manager pemasaran. Hal ini membantu menajer dalam:
a) menyusun
bauran pemasaran.
b) segmentasi
c) defferensiasi
dan product positioning.
d) menyediakan
dasar analisisi lingkungan
e) mengembangkan
riset pemasaran.
2. Analisis konsumen memainkan peranan kritis
dalam pengembangan
kebijakan publik.
kebijakan publik.
3.
Pengetahuan mengenai perilakuk konsumen mengembangkan
kemampuan konsumen untuk menjadi konsumen yang lebih efektif.
kemampuan konsumen untuk menjadi konsumen yang lebih efektif.
4.
Analisis konsumen memberikan pengetahuan tentang perilaku
manusia.
manusia.
5. Studi perilaku konsumen memberikan 3 jenis
informasi, yaitu:
a) Orientasi
konsumen.
b) Fakta
mengenai perilaku pembelian.
c) Teori
yang membimbing dalam proses berfikir.
2.3
Kerangka Analisis Perilaku Konsumen
Secara
sederhana variabel-variabel perilaku konsumen dapat dibagi kedalam 3 bagian
yaitu :
1. Faktor-2
ekstern yang terdiri dari kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial dan
referensi, dan keluarga.
2. Faktor-2
intern/individu yang terdiri dari motivasi, persepsi, kepribadian dan konsep
diri, belajar dan sikap individu.
3. Proses
pengambilan keputusan yang terdiri dari 5 tahap yaitu menganalisa keinginan dan
kebutuhan, pencarian informasi, penilaian dan pemilihan alternatif, keputusan
untuk membeli, dan perilaku sesudah pembelian.
Teori
perilaku menyatakan bahwa perilaku adalah fungsi individu dengan lingkungan.
Demikian juga dalam model perilaku konsumen, keadaan lingkungan dan individu
yang bersangkutan memegang peranan penting dalam menentukan perilakunya.
Secara
sederhana Assael (1994 : 14) mengemukakan bahwa ada tiga faktor pokok yang
mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Pertama adalah individu konsumen,
dimana pemilihan produk dan jasa dipengaruhi oleh; kebutuhan, persepsi, dan
sikap terhadap alternatif-alternatif serta demografi konsumen, gaya hidup dan
kepribadian. Kedua adalah faktor lingkungan yang dipelihatkan oleh kebudayaan,
kelas sosial, kelompok referensi dan faktor situasional. Ketiga adalah strategi
pemasaran yang mengawasi konsumen dengan variabel-variabel produk, harga,
promosi, dan distribusi.
Dalam
kerangka analisis yang dikemukakan Berkowitz, ada satu perbedaan dibandingkan
pendapat para ahli yaitu dimasukkannya faktor situasional dalam kerangkan
analisisinya.
Faktor
situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu.
Kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen (Assael, 1994 : 527).
Belk (1975 : 158) mendifinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama
terhadap tempat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang (intra
individual) dan stimuli (alternatif pilihan) dan memiliki bukti dan pengaruh
sistimatis pada perilaku saat itu.
Pengaruh
situasional adalah kekuatan sesaat yang tidak berasal dari dalam diri seseorang
atau berasal dari produk atau merek yang dipasarkan (Wilkie, 1990 : 453).
Pengaruh situasional pada konsumen adalah faktor personal dan lingkungan
sementara yang muncul pada aktivitas konsumen, sehingga situasi konsumen
meliputi faktor-faktor seperti :
a) melibatkan
waktu dan tempat dalam mana aktivitas konsumen terjadi
b) mempengaruhi
tindakan konsumen seperti perilaku pembelian, dan
c) tidak
termasuk karakteristik personal yang berlaku dalam jangka panjang. Situasi
konsumen relatif merupakan kejadian jangka pendek dan harus dibedakan dengan
lingkungan makro atau faktor-faktor personal yang memiliki jangka waktu lama.
Pengaruh
situasional telah menjadi pertimbangan bagi banyak peneliti perilaku konsumen.
Kenyataannya semua perilaku konsumen mungkin dipengaruhi oleh pengaruh
situasional. Peneliti harus mampu mengidentifikasi variabel situasional mana
yang paling umum mempengaruhi perilaku konsumen. Problem pemasaran dapat
disederhanakan jika fokusnya hanya diarahkan pada situasi yang paling
mempengaruhi pembelian produk. Penelitian telah menemukan bahwa faktor
situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan mengubah kemungkinan pemilihan
berbagai alternatif (Kolm, Monroe, dan Glazer, 1987, dalam Titus dan Ernett,
1996).
Situasi
konsumsi adalah keadaan dimana merek digunakan. Suatu parfum mungkin digunakan
untuk acara tertentu sedangkan parfum yang lain digunakan untuk sehari-hari.
Konsumen mungkin minum kopi bubuk untuk menjamu tamu dan minum kopi instan
untuk menu sehari-hari. Situasi demikian sebagaian dapat diantisipasi, misalnya
akan pergi kesuatu tempat atau akan kedatangan tamu tertentu. Sebagian yang
lain tidak bisa diantisipasi misalnya tiba-tiba ada tamu yang datang. Keadaan
demikian memaksa konsumen membeli sesuatu secara cepat dan rela membayar lebih
karena keterbatasan waktu untuk berkeliling mencari harga yang murah.
Situasi
pembelian berkaitan dengan: pertama, lingkungan di dalam toko seperti
ketersediaan produk, perubahan harga, dan kemudahan belanja yang berkait dengan
pilihan berbelanja. Kedua, situasi pembelian berkaitan dengan apakah produk
yang dibeli untuk hadiah atau untuk dirinya sendiri. Konsumen biasanya
mengunakan kriteria yang berbeda dan mungkin memilih merek yang berbeda jika ia
membeli untuk dirinya sendiri. Ketiga, situasi pembelian berkaitan dengan
keadaan mood konsumen ketika berbelaja. Keadaan senang atau keadaan susah
mempengaruhi pemrosesan dan pencarian informasi tentang produk.
Situasi
Komunikasi adalah keadaan dimana konsumen terbuka untuk informasi baik dari
orang seorang ataupun informasi yang bersifat impersonal. Situasi komunikasi
dapat menentukan apakah konsumen akan mengumumkan, memahami dan menahan
informasi.
Untuk
memahami lebih lanjut tentang situasi, maka perlu diketahui tentang
karekteristik situasi konsumsi dan situasi pembelian. Dengan mengacu pada
pendapat Belk dalam Assael (1994 : 530), Engel et. al., (1994 : 210), dan Mowen
(1990 : 536) terdapat lima jenis situasi konsumen yaitu; lingkungan fisik,
lingkungan sosial, definisi tugas, perspektif waktu, dan pernyataan sebelumnya.
2.4 Teori-teori
Perilaku Konsumen
Alasan
mengapa seseorang membeli merupakan faktor penting dalam menentukan program
pemasaran perusahaan. Untuk mengetahui dan memahami proses motivasi yang
mendasari dan mengarahkan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, perlu
dipelajari teori perilaku konsumen.
Tidak
ada teori perilaku konsumen yang dapat diterima secara umum karena
masing-masing hanya membahas bagian khusus dari keseluruhan faktor pembentuk
perilaku, sehingga penerapanya hanya bisa dilakukanbuntuk situasi tertentu.
Perilaku manusia merupakan fungsi dari individu dan lingkungan. Individu
memiliki kehendak dan lingkungan yang turut menentukan apakah kehendak itu akan
dilaksanakan atau tidak. Misalnyaalnya seorang individu merasa lapar (faktor
individu) ia melihat bahwa di seberang jalan ada rumah makan (faktor
lingkungan) individu terterik dan merasa cocok dengan rumah makan itu (
interaksi individu dengan lingkungan) kemudian ia membeli makanan dan makan di
rumah makan tersebut (perilaku). Semua teori perilaku konsumen merupakan variansi
dari pola dasar tersebut. Secara skematis pola tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:
2.4.1 Teori
Ekonomi Mikro
Menurut
teori ini keputusan membeli merupakan hasil perhitungan ekonomisalnya rasional
yang sadar. Pembeli akan berusaha malkukan pembelian barang-barang yang akan
memberikan kegunaan atau memberikan kepuasan yang paling banyak sesuai dengan
keinginannya dan harga-harga relatif.
Teori
ekonomi mikro ini dikembangkan oleh beberapa ahli diantaranya Adam Smith yang
mengembangkan suatu doktrin pertumbuhan ekonomi yang didasakan atas prinsip
bahwa manusia dalam segala tindakanya didorong oleh kepentinganya sendiri.
Jeremy Bentham mengemukakan bahwa manusia adalah makluk yang mempertimbangkan
untung rugi dalam segala tindakanya.
Alfred
Marshall menyempurnakan teori ini menjadi teori yang sekarang dikenal dengan
teori kepuasan modern. Menurut teori ini setiap konsumen akan berusaha
mendapakan kepuasan maksimal, dan konsumen akan meneruskan pembeliannya
terhadap suatu produk bila ia mendapatkan kepuasan dari produk yang sama yang
telah dikonsumsinya, dimana kepuasan yang didapakan sebanding atau lebih besar
dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk
beberapa produk lain melalui perhitungan yang cermat terhadap konsekwensi
pembelian.
Asumsi
dari teori ini adalah :
a. konsumen
selalu mencoba memaksimumkan kepuasannya dalam batas-batas kemampuan
finansialnya.
b. konsumen
mempunyai pengetahuan tentang beberapa alternatif sumber untuk memuaskan
kebutuhannya.
c. konsumen
selalu bertindak rasional.
Teori
ini umumnya ditolak karena kenyataanya tidak ada orang yang sebelum membeli
barang tertentu terlebih dahulu menghitung teliti marginal utility barang
tersebut dan membandingkanya dengan marginal utility dengan barang lain. Teori
ini hanya memasukkan faktor ekonomi sebgai variabel pembentuk perilaku
sedangkan faktor-faktor lain yang sebenarnya turut membentuk perilaku tidak
dimasukkan dalam teori ini.
2.4.2 Teori Psikologis
Teori
psikologi mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang selalu
dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Perilaku manusia sangat komplek
karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung.
Stimuli
atau rangsangan-rangsangan yang dapat ditangkap dengan panca indaria merupakan
input yang akan diproses oleh proses mental sehingga menghasilkan output berupa
perilaku. Proses mental merupakan sebuh proses yang sangat komplek sehingga
sulit digambarkan oleh karenanya sering disebut sebagai black box.
a) Teori
Belajar.
Teori
belajar dikembangkan dari berbagai percobaan pada sejumlah binatang yang
dilakukan oleh ahli-ahli psikologi seperti Ivan Pavlov, Skinner dan Hull. Teori
ini didasarkan atas empat komponen pokok yaitu drive (dorongan), cue
(petunjuk), respon (tanggapan), dan reinforcement (penguat).
Drive
(kebutuhan/motif) adalah stimuli
(rangsangan) kuat dalam diri seseorang yang memaksanya untuk bertindak. Drive dapat dibedakan mjd dorongan yang bersifat
fisiologis seperti; lapar, haus, seks, dan dorongan yang bersifat hasil proses
belajar (learning drive) misalnya;
takut, senang dan sebagainya.
Cue
merupakan stimuli yang lebih lemah, yang menentukan kapan, dimana, dan bagaiman
tanggapan subyek.
Respon
merupakan reaksi seseorang terhadap berbagai petunjuk. Reinforcement terjadi
bila perilaku individu terbukti dapat menghasilkan kepuasan. Perilaku individu
akan terulang bila reinforcement positif dan tidak terulang jika negatif. Untuk
memperjelas konsep diatas akan diberikan ilustrasi sebagai berikut. Anton
seorang wisatawan dari Medan sedang berkeliling kota Jogja. Ia mengendarai
mobil sewaan sambil mendengarkan musik dari radio. Karena dari pagi tadi belum
makan sekarang ia merasa lapar (drive). Ia mendengar berbagai informasi tentang
rumah makan yang ada di Yogyakarta dari radio (clue) ketika melintas di Jl.
Janti ia melihat baleho “Ayam Goreng Suharti” (clue) yang mengarahkan ia untuk
makan disitu. Dengan mempertimbangkan informasi dari radio dan baleho yang ia
lihat akirnya ia memutuskan untuk makan di RM Ayam Goreng Suharti (respon).
Selesai makan ia merasa bahwa menunya sangat lezat (reinforcement positif) ia
berfikir kalau ke Jogja lagi akan menyempatkan diri mampir ke rumah makan
tersebut. Setelah itu ia memanggil pelayan untuk minta bon, ia sedikit kaget
karena ia merasa harganya cukup mahal (reinforcement negatif) yang akhirnya ia
harus berfikir dua kali kalau mau makan di rumah makan itu lagi.
Beberapa
teori yang dapat menjelaskan penafsiran dan peramalan proses belajar konsumen
adalah:
1) Stimulus Response Theory
(Teori rangsangan - tanggapan)
Menurut teori ini
proses belajar merupakan suatu tanggapan dari seseorang (binatang) terhadap
suatu rangsangan yang dihadapinya. Sebuah percobaan dilakukan terhadap seekor
anjing dengan memeberikan rangsangan. Jika anjing memberikan respon yang benar
sesuai yang dikehendaki makan diberi hadiah berupa daging, jika tangapan salah
maka diberi hukuman yaitu dipukul. Rangsangan tersebut diulang-ulang sampai
mendapatkan respon yang sama secara terus menerus. Akhirnya ketika muncul
rangsangan yang sama anjing tersebut memberikan respon yang sama meskipun tidak
diberi hadiah. Dengan demikian disini terdapat perilaku yang dipelajari
(leanerd behavior).
Watson menerapkan teori ini pada bidang
periklanan. Ia berpendapat untuk mendapatkan tanggapan dari konsumen perlu
mengadakan iklan terus menerus agar konsumen tidak lupa dan memperkuat
tanggapan.
2) Cognitive Theory
(Teori Kesadaran)
Teori S – R menyatakan bahwa perilaku
merupakan respon positif atau negatif, dan tidak ada variabel-variabel lain
yang turut mempengaruhinya. Dalam teori kesadaran proses belajar dipengaruhi
oleh faktor-faktor seperti:
Ø sikap
Ø keyakinan
Ø pengalaman
masa lalu
Ø kesadaran
mengenai bgm memanfaatkan suatu keadaan untuk mencapai tujuan.
Teori kesadaran lebih menekankan pada proses
pemikiran seseorang yang sangat menentukan pola perilakunya.
3) Gestalt dan Field Theory
(Teori Bentuk dan Bidang)
Gestalt
(Jerman)
berarti pola, bentuk, ujud. Teori ini memandang proses belajar dan perilaku
secara keseluruhan. Teor i ini didasarkan pada percobaan-percobaan yang
membuktikan bhw rangsangan individual diterima dan diartikan berdasarkan
pengalaman masa lalu. Proses pengamatan, pengalaman masa lalu, dan pengarahan
tujuan merupakan variabel penentu perilaku.
Kurt Lewin menyempurnakan gestalt theory, ia
mengemukakan field teory. Field teory mengemukakan bahwa perilaku secara umum
adalah hasil interaksi yang nampak antara individu dan lingkungan psikologis.
Lingkungan psikologis adalah bagian dari ruang hidup. Tekanan dari teori ini
adalah pentingnya interaksi manusia dengan ruang hidupnya, atu dengan
lingkungan psikologisnya yang dapat mempengaruhi perilaku dan memuaskan
kebutuhanya. Rangsangan akan diterjemahkan berdasarkan lingkungan
psikologisnya. Misalnya dalam iklan obat aktor iklan berpakaian putih (seperti
pakaian dokter) maka seseorang akan cenderung menterjemahkan bahwa aktornya
adalah seorang dokter.
2.4.3 Teori
Psikoanalitis
Dasar
teori ini adalah teori psikoanalisa dari Sigmen Freud. Perilaku manusia
merupakan kerjasama dari ketiga aspek dalam struktur kepribadian manusia yaitu id (das es),
ego (das ich), super ego (das veber ich).
Id
adalah aspek biologis merupakan wadah dari dorongan-2 yang ada dalam diri
manusia. Id hanya mengenal dunia
obyektif (dunia batin). Misalnya, rasa lapar dalam id dapat dipuaskan baik dengan mengkhayalkan makan maupun makan
sungguhan.
Ego adalah aspek
psikologis dari kepribadian dan timbul krn kebutuhan organisme untuk
berhubungan dengan dunia kenyataan. Ego
mjd tempat pusat perencanaan unt menemukan jalan keluar bagi dorongan-2 yang
terdapat dalam “id”nya. Ego dapat membedakan sesuatu yang hanya
ada di dalam batin dan susuatu yang ada di duni luar.
Super ego
merupakan aspek sosiologis dari kepribadian. Aspek ini dapat dianggap sebag
aspek moral dari kepribadian yang menyalurkan dorongan naluriah ke dalam
tindakan yang tidak bertentangan dengan norma sosial dan adat kebiasaan.
2.4.4 Teori
Sosiologis
Teori
ini disebut juga psikologi sosial. Teori ini menitikberatkan pada hubungan dan
pengaruh antara individu-2 yang dikaitkan dengan perilaku mereka, jadi lebih
mengutamakan perilaku klp. Teori ini memandang manusia sebagai social animal
yang menyesuaikan diri dengan bentuk kultur lingkungan hidupnya. Keinginan dan
perilaku seseorang sebagian besar ditentukan oleh lingkungan sosial dimana
seseorang menjadi anggotanya. Teori sosiologis mengarahkan analisa perilaku
pada kegiatan-kegiatan kelompok seperti keluarga, teman sekerja, dan
sebagainya.
2.4.5 Teori
Atropologis
Teori
ini menekankan bahwa sikap dan perilaku manusia dipengaruhi berbagai kelompok
masyarakan yg besar spt; kultur, subkultur, dan kelas-kelas sosial. Faktor-faktor
tersebut memainkan pernan yang amat penting dalam pembentukan sikap dan
menentukan nilai-nilai yang akan dianut dimana nilai-nilai tersebut
mempengaruhi perilakunya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perilaku
konsumen pada dasarnya merupakan tindakan/perilaku, termasuk didalamnya
aspek-aspek yang mempengaruhi tindakan itu, yang berhubungan dengan usaha untuk
mendapatkan produk (barang dan jasa) guna memenuhi kebutuhannya. Tidak ada
kesamaan definisi yang dikemukanan para ahli, perbedaan itu disebabkan adanya
perbedaan sudut pandang. Perilaku manusia sangat komplek sehingga sangat sulit
digambarkan dengan kata-kata.
Analisis konsumen merupakan
dasar dari managemen pemasaran. Perencanaan dan strategi pemasaran harus
disusun berdasarkan pemahaman akan konsumen yang menjadi target pasar bagi
perusahaan.
Secara sederhana
variabel-variabel perilaku konsumen dapat dibagi kedalam 3 bagian yaitu
faktor-fakto ekstern yang terdiri dari kebudayaan, kelas sosial, kelompok
sosial dan referensi, dan keluarga; faktor-faktor intern/individu yang terdiri
dari motivasi, persepsi, kepribadian dan konsep diri, belajar dan sikap
individu; dan proses pengambilan keputusan yang terdiri dari menganalisa
keinginan dan kebutuhan, pencarian informasi, penilaian dan pemilihan
alternatif, keputusan untuk membeli, dan perilaku sesudah pembelian
Teori-teori
yang mencoba menjelaskan perilaku konsumen antara lian teori ekonomi mikro,
teori psikologis, teori psikoanalitis, teori sosiologis, dan teori antopologis.
3.2 Saran
Perilaku
konsumen dalam bidang ekonomi sangat perlu dipahami agar dalam melaksanakan
kegiatan beljar ilmu ekonomi maupun
melkasanakan kegiatan ekonomi dapat berjalan lebih ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Teori Perilaku Konsumen. https://pemasaran.wikispaces.com/file/
view/TEORI+DAN+MODEL+PERILAKU+KONSUMEN.docx (diakses 24 april 2018)
view/TEORI+DAN+MODEL+PERILAKU+KONSUMEN.docx (diakses 24 april 2018)

makasih kak makalahnya membantu sekali
BalasHapusberita dunia